Sekilas Info

Perkembangan kasus HIV di Provinsi Sumatera Barat terus mengalami peningkatan dan sangat mengkhawatirkan karena penularan dan penyebarannya semakin meluas. Trend jumlah kasus baru HIV/AIDS di Provinsi Sumatera  Barat dari tahun ke tahun mengalami peningkatan,  sejak tahun 2007 sampai akhir tahun 2013 tiap tahunnya  terjadi peningkatan kasus baru lebih dari 100 orang. Pada tahun 2013 ditemukan 150 kasus AIDS baru dan 200 kasus HIV baru, dengan jumlah kasus paling banyak di Kota Padang (348 kasus) dan Bukittinggi (148 kasus), akan tetapi Kota Bukittinggi mempunyai rate kumulatif AIDS tertinggi di Sumbar, yaitu 119.75.

Melihat dari faktor resiko penularan HIV/AIDS yang disebabkan oleh faktor perilaku masyarakat, maka persoalan HIV/AIDS tidak hanya dikatakan sebagai masalah  kesehatan semata, tetapi juga merupakan masalah sosial, oleh karena itu, permasalahan HIV/AIDS juga memerlukan penanggulangan yang komprehensif dan melibatkan banyak pihak.

Pada tahun 2014 Bidang Litbang Bappeda Provinsi Sumatera Barat melalui fungsional peneliti (Dra. Yulfira Media, MSi) telah melakukan kegiatan penelitian terkait faktor-faktor yang melatarbelakangi tingginya kasus HIV/AIDS dan bagaimana pengembangan strategi dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS yang sesuai dengan kondisi sosial budaya. Hal ini sejalan dengan tujuan pencapaian target MDGs (tujuan 6) adalah upaya memerangi HIV/AIDS dengan target mengendalikan penyebaran HIV dan menurunnya jumlah kasus pada tahun 2015 dengan  indikator  antara lain adalah  Prevalensi HIV/AIDS.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan kasus baru HIV/AIDS di RSAM Kota Bukittinggi menunjukkan peningkatan terus dari tahun 2012 sampai dengan 2014, yaitu  dari 33 kasus (tahun 2012) meningkat menjadi 40 kasus (tahun 2013), dan meningkat cukup tajam menjadi 72 kasus (Agustus 2014). Penderita tidak hanya berasal dari Kota Bukittinggi, tetapi juga berasal dari luar Kota Bukittinggi, seperti dari Kota Payakumbuh, Agam, Kabupaten 50 Kota, Kabupaten Tanah Datar, dan kab/kota lainnya.

Jika ditinjau dari karakteristik kumulatif penderita HIV/AIDSdari tahun 2007-2013, maka dapat dikatakan bahwasebagian besar penderita adalah dengan jenis kelamin laki-laki, yaitu sebesar 82,07%. Dari kelompok usia, persentase kumulatif HIV/AIDS  (2007-2013) yang berasal dari kelompok umur 25-49 tahun cenderung lebih besar yaitu sebesar 58,15% laki-laki dan 55,93% perempuan.

Faktor yang melatarbelakangi penularan HIV/AIDS yaitu faktor perilaku, faktor lingkungan  (lingkungan sosial dan budaya) dan faktor kemajuan teknologi informasi. Dari faktor perilaku, perilaku seksual yang tidak aman merupakan faktor resiko terbesar dalam penularan HIV/AIDS saat ini, khususnya homoseksual (32,43%).

Faktor lingkungan sosial budaya juga cukup besar pengaruhnya terhadap perilaku yang dianggap berisiko terhadap tertularnya HIV/AIDS. Kondisi lingkungan keluarga yang dianggap kurang harmonis, seperti adanya perpecahan keluarga dan kesibukan orang tua dalam mencari nafkah telah memberikan pengaruh kepada perilaku menyimpang seperti narkoba dan seks bebas. Lingkungan sosial (lingkungan pertemanan) juga bisa memberikan peluang terjadinya homoseksualitas, hal ini  juga dimungkinkan karena kurangnya pengawasan dari pihak keluarga, peran dan fungsi dari ninik mamak dan kelembagaan adat relatif kurangserta akses negatif  dari internet yang juga memberikan dampak perilaku reproduksi remaja seperti perilaku seks bebas.

Dalam upaya  penanggulangan HIV/AIDS, Dinas Kesehatan Kota Bukittingi dan KPA Kota Bukittinggi telah melaksanakan beberapa kegiatan antara lain melakukan sosialisasi, penjangkauan dan pendampingan kepada kelompok resiko tinggi, pertemuan dan koordinasi dengan dinas instansi terkait, LSM peduli AIDS ODHA dan kelompok resiko tinggi, koordinasi layanan kesehatan. Namun demikian, terdapat adanya  beberapa kendala antara lain adalah adanya stigma dan diskriminasi terhadap HIV/AIDS, keterbatasan jangkauan dan penjaringan  terhadap populasi kunci.

Penanggulangan HIV/AIDS tidak hanya menjadi permasalahan kesehatan semata, tetapi juga perlu penanganan yang komprehensif/terintegrasi dari berbagai lintas sektor. Beberapa strategi yang dapat dikembangkan dalam penanggulangan HIV/AIDS berdasarkan pendekatan sosial budaya adalah 1). Strategi peningkatan informasi dan pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS secara komprehensif, antara lain melalui penyebarluasan informasi HIV/AIDS secara langsung kepada masyarakat melalui tokoh agama dan tokoh masyarakat, 2). Strategi pemberdayaan masyarakat dan penguatan kelembagaan, antara lain melalui lokakarya  peningkatan peran dan fungsi/pengawasan dari keluarga, ninik mamak dan kelembagaan adat  terhadap penerapan nilai-nilai sosial budaya dan agama dalam rangka  pencegahan & penanggulangan HIV/AIDS, 3). Peningkatan akses jangkauan pelayanan, dan 4). Dukungan penguatan regulasi dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS.

Strategi penanggulangan HIV/AIDS berdasarkan pendekatan sosial budaya tersebut disusun dalam rencana aksi (action plan) yang dituangkan dalam berbagai alternatif  kegiatan. Strategi dan program yang disusun diharapkan bisa menjadi pedoman dalam menyusun rencana pembangunan bidang kesehatan pada tahun berikutnya, khususnya dalam penanggulangan HIV/AIDS. Rekomendasi yang disusun diharapkan  juga bisa dimanfaatkan oleh kabupaten/kota lainnya di Provinsi Sumatera Barat dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS.

Untuk mendapatkan informasi terkait Rencana Aksi  Pengembangan Strategi Penanggulangan HIV/AIDS yang telah dituangkan dalam program/kegiatan dan indikator kinerja berdasarkan rekomendasi dari hasil kajian ini bisa didapatkan pada bidang Litbang Bappeda Provinsi Sumatera Barat atau melalui email litbangbappeda_sumbar@yahoo.co.id.

.